Kisah Pilu Batistuta Yang Ingin Amputasi Kakinya • Info Bintang Bola Bintang Sepak Bola Dunia | Berita Bola Terbaru

Bintang Sepak Bola Dunia,Berita Bola Terbaru,Liga Inggris,Liga, Spanyol,Eropa

Handicap Asianbookie Bola Terupdate Malam Ini | Preston vs Derby 0 : 1/4 | Bristol City vs Brentford 0 : 1/4 | Burton Albion vs Middlesbrough 3/4 : 0 | Ipswich vs Millwall 1/4 : 0 | Nottingham Forest vs Barnsley 0 : 1/4 | QPR vs Norwich 0 : 1/4 | Sunderland vs Sheffield Wednesday 0 : 0 | Sheffield Utd vs Cardiff 0: 0 | Getafe vs Real Betis 0 : 1/2 Atalanta vs Sampdoria 0: 1 1/4 | Genoa vs Cagliari 0 : 1/2 | Udinese vs Fiorentina 1/4 : 0
Bandar Online Terpercaya

Kisah Pilu Batistuta Yang Ingin Amputasi Kakinya

Legenda Fiorentina, Gabriel Batistuta baru-baru ini membeberkan bahwa dirinya sempat putus harapan dengan situasi kakinya dan bahkan sempat meminta kepada dokter untuk melakukan amputasi.

Batistuta dikenal sebagai bomber luar biasa di masanya saat ia bermain untuk Fiorentina mulai tahun 1991 sampai tahun 2000, di mana ia menorehkan 168 gol.

Usai gagal mencapai impiannya mencatatkan scudetto bersama Fiorentina, Batistuta memutuskan berangkat dan gabung dengan AS Roma pada tahun 2000. Batistuta berangkat usai Roma mencapai kesepakatan senilai 36,2 juta £.

Di musim pertamanya bersama Roma, Batistuta berhasil mewujudkan mimpinya dengan membawa Giallorossi menjuarai Serie A untuk pertama kalinya sejak 1983. Tapi di tahun terakhirnya di Roma, yaitu pada 2003, Batistuta dipinjamkan ke Inter Milan sebelum pada akhirnya bergabung Al-Arabi.

Akan tetapi di balik kisah berhasil itu, Batistuta mempunyai kisah memilukan setelah pensiun. Masalah pergelangan kaki yang ia alami sempat membuatnya tidak mampu berjalan dan harus memakai suntikan penghilang rasa sakit dan sempat meminta dokter untuk mengamputasi kakinya.

“aku merasakan masalah serius dengan pergelangan kaki aku. Sendi tiruan diletakkan untuk membantu aku. Gerak aku buruk, namun untungnya aku tidak lagi dalam mengalami banyak kesakitan lagi,” tandasnya.

“Untuk sementara waktu, susah bahkan untuk bangun dan berangkat ke kamar mandi. Aku minum banyak obat penghilang rasa sakit. Rasanya seperti di penjara,” tambahnya.

“aku juga berpikir untuk membiarkan kaki aku diamputasi. Sebuah hari aku berangkat ke suatu klinik dan menyebut kepada dokter bahwa aku tidak mampu menahan rasa sakit lagi, jadi aku bertanya kepada mereka apakah amputasi mampu dilaksanakan” ujarnya.

Bantu Bagikan:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *